About Me

header ads

Anak Mudah Marah ketika Gawai Diambil, Bagaimana Orang Tua Menyikapinya?

MPC Media — Reaksi anak yang mudah marah, menangis, berteriak atau menolak ketika gawai diambil menjadi salah satu tantangan yang dihadapi orang tua di era digital.

Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan anak, baik untuk hiburan, komunikasi maupun pembelajaran. Namun, ketika penggunaannya mulai sulit dikendalikan, orang tua perlu melihat persoalan tersebut bukan sekadar sebagai masalah kedisiplinan.

Menurut Aziz Aminudin, M.Pd, Trainer & Profesional Hipnoterapi dari MPC Training Center dan Griya Hipnoterapi MPC, reaksi emosional anak saat gawai dihentikan perlu dipahami terlebih dahulu sebelum orang tua mengambil tindakan.

“Jangan langsung melihat kemarahan anak sebagai bentuk pembangkangan. Orang tua perlu memahami apa yang membuat anak begitu sulit berhenti dari aktivitasnya di gawai,” kata Aziz.

Jangan Mengambil Gawai Secara Tiba-Tiba

Salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua adalah membuat aturan penggunaan gawai sejak awal. Anak perlu mengetahui kapan waktu bermain dan kapan waktunya berhenti.

Peringatan beberapa menit sebelum waktu penggunaan berakhir juga dapat membantu anak mempersiapkan diri untuk menghentikan aktivitasnya.

“Kalau aturan dibuat mendadak ketika anak sedang asyik bermain, konflik lebih mudah terjadi. Anak perlu mengetahui batas waktunya sejak awal,” ujar Aziz.

Orang tua juga perlu konsisten menerapkan aturan. Kesepakatan yang hari ini berlaku tetapi besok berubah tanpa alasan yang jelas dapat membuat anak kesulitan memahami batasan.

Tetap Tenang Ketika Anak Marah

Ketika anak sudah terlanjur marah, respons orang tua menjadi penting. Membalas teriakan dengan teriakan dapat membuat situasi semakin meningkat.

Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menenangkan diri, kemudian membicarakan alasan aturan tersebut ketika kondisi sudah lebih tenang.

Anak juga dapat diberikan alternatif kegiatan setelah waktu menggunakan gawai selesai, seperti bermain bersama keluarga, membaca, berolahraga atau melakukan aktivitas kreatif.

Perhatikan Pola Perilaku Anak

Kemudahan akses terhadap hiburan digital dapat membuat anak terbiasa mendapatkan stimulasi secara cepat. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan apakah penggunaan gawai mulai mengganggu tidur, belajar, aktivitas fisik, hubungan keluarga atau kegiatan sosial anak.

“Yang perlu dilihat bukan hanya berapa jam anak memegang gawai, tetapi bagaimana penggunaan gawai memengaruhi kehidupan sehari-harinya,” jelas Aziz.

Jika kemarahan atau perubahan perilaku berlangsung terus-menerus dan mengganggu fungsi sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan profesional yang sesuai untuk memahami kondisi anak secara lebih menyeluruh.

Bagi masyarakat Brebes yang membutuhkan pendampingan terkait masalah pikiran, perilaku dan mental, Griya Hipnoterapi MPC menyediakan layanan Profesional Hipnoterapi dengan pengalaman sejak 2012.

Konsultasi dapat dilakukan secara aman dan rahasia melalui 0858-6767-9796. Griya Hipnoterapi MPC beralamat di Perumahan K1001 Pintu No. 96 RT 06/RW 09, Pasarbatang, Brebes.

Pada akhirnya, menghadapi anak yang marah ketika gawai diambil membutuhkan batasan yang jelas sekaligus komunikasi yang tenang. Tujuannya bukan sekadar membuat anak berhenti menggunakan gawai, tetapi membantu anak belajar mengatur kebiasaan dan emosinya secara bertahap.

Supported by : GRIYA HIPNOTERAPI MPC
Daftar / Ajukan Jadwal : s.id/daftarhipnoterapi