MPC Media — Media sosial membuat siapa pun dapat melihat kehidupan orang lain hanya melalui layar ponsel. Foto liburan, pencapaian karier, hubungan yang terlihat harmonis hingga gaya hidup mewah sering muncul setiap hari di beranda.
Namun, di balik kemudahan tersebut muncul fenomena psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau kehidupan yang sedang dijalani orang lain.
FOMO dapat membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika melihat teman memperoleh pencapaian tertentu, misalnya, seseorang bisa merasa kehidupannya tidak cukup baik meskipun sebelumnya merasa baik-baik saja.
Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri
Konten di media sosial pada dasarnya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Masalahnya, pengguna sering membandingkan kehidupan nyata mereka dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan ditampilkan secara menarik.
“Yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Kita sering melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses, masalah, dan perjuangan di baliknya,” kata Aziz Aminudin, M.Pd, Trainer & Profesional Hipnoterapi dari MPC Training Center dan Griya Hipnoterapi MPC.
Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Ketika standar kehidupan dibentuk berdasarkan apa yang terlihat di media sosial, seseorang bisa merasa tertinggal, kurang berhasil, kurang menarik atau kurang bahagia.
Ketika Kebahagiaan Bergantung pada Kehidupan Orang Lain
FOMO tidak selalu muncul dalam bentuk kecemasan yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini dapat terlihat dari kebiasaan mengecek media sosial berulang kali, merasa harus mengikuti tren, takut ketinggalan informasi, hingga merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang tidak dilakukan dirinya.
“Kalau kebahagiaan kita mulai bergantung pada apa yang dilakukan orang lain, maka perhatian kita sudah bergeser dari kehidupan sendiri,” ujar Aziz.
Ia menambahkan, seseorang perlu belajar mengenali pola pikir yang muncul setelah menggunakan media sosial.
Apakah setelah melihat unggahan orang lain seseorang merasa termotivasi, atau justru merasa minder, cemas dan tidak puas dengan kehidupannya?
Pertanyaan tersebut penting karena respons setiap orang terhadap media sosial berbeda.
Mengelola Pikiran di Tengah Arus Informasi Digital
Mengurangi FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun kesadaran ketika menggunakan media sosial.
Pengguna dapat mulai membatasi waktu penggunaan, memilih akun yang memberikan manfaat positif, serta berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan pribadi.
“Belajar menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda merupakan bagian penting dari pengelolaan pikiran dan emosi,” jelas Aziz.
Dalam konteks kesehatan mental, kemampuan mengelola pikiran menjadi penting ketika seseorang mulai merasa terganggu oleh kecemasan, tekanan, kebiasaan membandingkan diri atau pola pikir negatif yang berulang.
Bagi masyarakat Brebes yang membutuhkan pendampingan profesional terkait gangguan pikiran, perilaku dan mental, Griya Hipnoterapi MPC hadir sebagai layanan profesional hipnoterapi yang telah berpengalaman sejak 2012.
Konsultasi dapat dilakukan secara aman dan rahasia melalui 0858-6767-9796. Griya Hipnoterapi MPC berlokasi di Perumahan K1001 Pintu No. 96, RT 06/RW 09, Pasarbatang, Brebes.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Kebahagiaan tidak harus diukur dari seberapa jauh kehidupan kita terlihat dibandingkan kehidupan orang lain.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk kembali mengenali diri, menerima proses dan menghargai kehidupan sendiri menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan pikiran dan emosi.
Supported by : GRIYA HIPNOTERAPI MPC Daftar / Ajukan Jadwal : s.id/daftarhipnoterapi







