BREBES — Perundungan atau bullying masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian di lingkungan pendidikan. Bentuknya tidak hanya berupa ejekan atau tindakan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Perundungan di dunia maya atau cyberbullying bahkan dapat membuat korban terus berhadapan dengan tekanan karena konten, komentar atau pesan yang menyakitkan dapat muncul kembali kapan saja.
Menurut Aziz Aminudin, M.Pd, Trainer & Profesional Hipnoterapi dari MPC Training Center dan Griya Hipnoterapi MPC, dampak perundungan tidak selalu terlihat secara langsung.
“Anak yang menjadi korban bullying belum tentu langsung menceritakan apa yang dialaminya. Karena itu, perubahan perilaku dan emosi perlu menjadi perhatian orang tua maupun guru,” kata Aziz.
Dampaknya Tidak Selalu Terlihat
Korban perundungan dapat menunjukkan berbagai perubahan. Misalnya menjadi lebih pendiam, enggan pergi ke sekolah, kehilangan minat terhadap aktivitas tertentu, sulit tidur, mudah cemas atau terlihat lebih sensitif.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti seorang anak menjadi korban bullying. Orang tua dan guru perlu melihat situasi secara menyeluruh serta membuka ruang komunikasi agar anak merasa aman untuk bercerita.
“Jangan langsung menyimpulkan. Yang penting adalah membangun komunikasi sehingga anak tahu bahwa ada orang dewasa yang siap mendengarkan dan membantunya,” ujar Aziz.
Cyberbullying Membuat Tekanan Berlanjut
Berbeda dengan perundungan yang terjadi secara langsung, cyberbullying dapat berlangsung melalui pesan pribadi, komentar, unggahan, grup percakapan maupun penyebaran konten tanpa persetujuan.
Akibatnya, anak dapat merasa bahwa tekanan tersebut tidak berhenti ketika ia meninggalkan sekolah.
Orang tua perlu mengetahui aktivitas digital anak tanpa menjadikan pengawasan sebagai bentuk intimidasi. Komunikasi mengenai penggunaan media sosial, privasi, keamanan akun dan cara melaporkan konten bermasalah juga penting diberikan.
Jangan Menyalahkan Korban
Ketika anak akhirnya bercerita tentang pengalaman bullying, respons orang tua menjadi bagian penting dalam proses penanganannya.
Ucapan yang menyalahkan, meremehkan atau meminta anak langsung melawan dapat membuat anak semakin enggan berbicara.
Sebaliknya, orang tua dapat mendengarkan terlebih dahulu, memastikan keselamatan anak, mencatat kejadian yang relevan dan berkoordinasi dengan pihak sekolah atau pihak terkait sesuai situasinya.
Jika tekanan yang dialami anak sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau menimbulkan perubahan emosi dan perilaku yang menetap, pendampingan profesional dapat dipertimbangkan.
Bagi masyarakat Brebes yang membutuhkan pendampingan terkait masalah pikiran, perilaku dan mental, Griya Hipnoterapi MPC menyediakan layanan Profesional Hipnoterapi dengan pengalaman sejak 2012.
Konsultasi dapat dilakukan secara aman dan rahasia melalui 0858-6767-9796. Griya Hipnoterapi MPC beralamat di Perumahan K1001 Pintu No. 96 RT 06/RW 09, Pasarbatang, Brebes.
Perundungan bukan sekadar persoalan antara anak yang bertengkar. Ketika dilakukan berulang dan menimbulkan tekanan, persoalan tersebut perlu ditangani dengan serius melalui komunikasi, perlindungan dan dukungan yang tepat.
Peran orang tua, guru dan lingkungan sekitar sangat penting agar anak memiliki ruang yang aman untuk berbicara dan mendapatkan bantuan ketika menghadapi perundungan, baik di sekolah maupun di dunia maya.
Supported by : GRIYA HIPNOTERAPI MPC
Daftar / Ajukan Jadwal : s.id/daftarhipnoterapi







